Tragedi Wabah Kelelawar, Bacaan Misteri dari Penulis Kalimantan Timur

Ada buku yang menarik perhatianku karena sudah lama masuk daftar bacaan. Ada juga buku yang akhirnya kubaca hanya karena tidak sengaja melihat cover-nya. Tragedi Wabah Kelelawar termasuk yang kedua.

Email rekomendasi dari Gramedia.com kembali membuatku penasaran. Dengan cover yang didominasi warna hitam dan sentuhan warna emas, buku ini terlihat misterius. Cukup untuk membuatku berhenti sebentar dan berpikir, “Ini cerita tentang apa, ya?”

Review Tragedi Wabah Kelelawar karya Usup, novel misteri tentang Sin dan Neta dengan dua sudut pandang, kasus penuh teka-teki, dan penulis asal Kalimantan Timur.
Lanjutkan membaca “Tragedi Wabah Kelelawar, Bacaan Misteri dari Penulis Kalimantan Timur”

Review Teka-Teki Gambar Aneh: Lima Gambar yang Menyimpan Rahasia

Review Teka-Teki Gambar Aneh karya Uketsu. Novel misteri Jepang yang mengajak pembaca menyusun petunjuk dari lima gambar sederhana.

Gara-gara sebelumnya membaca Teka-Teki Rumah Aneh dan mempostingnya di media sosial, seorang teman menyarankan agar aku melanjutkan membaca Teka-Teki Gambar Aneh.

Yah, jadi terbawa arus kan aku! Dengan tekad bulat, aku langsung membeli e-book Teka-Teki Gambar Aneh di Gramedia Digital.

Sayangnya, baru membaca sampai sekitar halaman 42, e-book yang kubaca tiba-tiba tidak bisa melanjutkan ke halaman berikutnya. Padahal e-book lain tetap berjalan mulus. Kejadian ini mengingatkanku saat pertama kali membeli Onyx Boox Go Color Gen II. Bedanya, waktu itu masalahnya bisa diatasi. Kali ini, justru e-book ini yang berhenti di halaman 42. Kalian nggak musuhan, kan? Hehe.


Sampul buku Teka-Teki Gambar Aneh karya Uketsu
Lanjutkan membaca “Review Teka-Teki Gambar Aneh: Lima Gambar yang Menyimpan Rahasia”

Review Teka-Teki Rumah Aneh: Tidak Seram, tetapi Bikin Penasaran

Sebuah denah rumah yang terlihat biasa ternyata menyimpan banyak kejanggalan. Teka-Teki Rumah Aneh tidak terlalu menyeramkan, tetapi berhasil membuatku ingin terus membaca hingga halaman terakhir.

Sebuah email rekomendasi buku minggu ini tak sengaja aku buka dari Gramedia.com. Biasanya, email rekomendasi buku selalu aku abaikan karena buku-buku yang direkomendasikan tidak sesuai dengan kriteria bacaan yang aku suka.

Namun, judul buku Teka-Teki Rumah Aneh tiba-tiba menarik perhatianku.

Kok agak serem, ya!

Sampul buku Teka-Teki Rumah Aneh karya Uketsu
Lanjutkan membaca “Review Teka-Teki Rumah Aneh: Tidak Seram, tetapi Bikin Penasaran”

Review Buku Aku yang Telah Lama Hilang : Ketika Ketakutan Ternyata Hanya Ada di Dalam Kepala

Review buku Aku yang Telah Lama Hilang karya Nago Tejana. Sebuah buku psikologi yang mengajak pembaca mengenali diri sendiri, berdamai dengan ketakutan, dan memahami kesehatan mental.

Aku yang Telah Lama Hilang adalah buku karya Nago Tejana, M.Psi., Psikolog. Sebelumnya aku sempat melihat buku ini di deretan etalase Gramedia. Tertarik? Dari judulnya sih iya. Tapi kalau melihat cover depannya, justru tidak terlalu.

Kenapa? Karena covernya menampilkan seorang pria berdasi yang sedang menenteng tas kerja. Dari raut wajahnya terlihat begitu lelah.

Lanjutkan membaca “Review Buku Aku yang Telah Lama Hilang : Ketika Ketakutan Ternyata Hanya Ada di Dalam Kepala”

Review Buku Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya : Belajar Memproses Emosi dengan Sadar

Review buku Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya karya dr Andreas Kurniawan, Sp.KJ. Buku psikologi yang mengajak pembaca belajar memproses emosi dan menyadari setiap pilihan dalam hidup.

Melanjutkan buku sebelumnya yang berjudul Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring, kali ini aku membaca buku kedua berjudul Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya. Gak salah baca kok, judulnya memang sepanjang itu. Jika sebelumnya aku merasa seperti bergabung di klub berduka, di buku kedua ini aku belajar untuk memproses emosi.

Di awal-awal buku, aku tertarik dengan bagian yang menjelaskan bahwa manusia punya kemampuan berdiskusi dengan dirinya sendiri. Aku menyadari bahwa selama ini aku memang sering mengajak ngobrol diri sendiri. Hanya saja, pertanyaan yang aku ajukan ke diri sendiri sering kali tidak terarah. Ha-ha.

Belajar memproses emosi lewat buku Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya karya dr Andreas Kurniawan, Sp.KJ.
Lanjutkan membaca “Review Buku Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya : Belajar Memproses Emosi dengan Sadar”

Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring – dr Andreas Kurniawan, Sp.KJ : Duka, Rindu, dan Kehilangan yang Tetap Tinggal

Sebuah buku tentang duka, penerimaan, dan cara hidup berdampingan dengan kehilangan.

“Seorang Pria yang Melalui Duka Dengan Mencuci Piring”, judul buku ini kerap menarik perhatianku setiap kali ke Gramedia. Kok judulnya panjang banget ya? Pikirku saat itu.

Suatu hari, seorang pecinta buku membuat konten tentang buku-buku yang sudah ia baca dan konten itu lewat di explore Instagramku. Buku tersebut adalah salah satunya.

“Gak bakal nyesel deh habis baca buku ini,” komentarnya saat itu.

Lanjutkan membaca “Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring – dr Andreas Kurniawan, Sp.KJ : Duka, Rindu, dan Kehilangan yang Tetap Tinggal”

Review Quite Love – Yoga Arizona

Quite Love karya Yoga Arizona terasa seperti membuka halaman-halaman diary seorang suami. Setiap konflik selalu memiliki lebih dari satu sudut pandang.

Ada buku yang selesai dibaca lalu diletakkan begitu saja di rak. Ada juga buku yang membuat kita berhenti sejenak, lalu memikirkan banyak hal setelah halaman terakhirnya ditutup. Buatku, Quite Love termasuk dalam kategori yang kedua.

Nama Yoga Arizona tentu bukan nama yang asing. Ia salah satu influencer yang cukup sering berseliweran di beranda Instagramku. Konten mini dramanya mungkin menjadi salah satu yang paling sering muncul. Ternyata setelah kuingat-ingat, aku sudah mengikuti Yoga bahkan sejak sebelum menikah.

Quite Love adalah salah satu karya lain dari Yoga. Sebuah buku yang tampaknya memang diniatkan sejak jauh-jauh hari dan ditulis dengan sepenuh hati.

Konflik diri, rumah tangga atau apapun itu, selalu memiliki lebih dari satu sudut pandang.
Lanjutkan membaca “Review Quite Love – Yoga Arizona”

Rutinitas Pagi

Rutinitas pagi sederhana yang membantu seorang ibu menikmati waktu sendiri, menjaga energi, dan menjalani hari dengan lebih tenang.

Menjadi ibu membuatku memahami satu hal: ternyata waktu tenang itu terasa sangat mewah. Bukan karena sulit dicari, tapi karena hampir setiap waktu selalu ada yang membutuhkan perhatian kita.

Mungkin itu sebabnya banyak ibu memilih menikmati kesunyian di waktu-waktu yang tidak biasa. Ada yang begadang setelah anak-anak tidur, ada yang menikmati kopi di ruang tengah, dan ada juga yang memilih bangun jauh lebih pagi sebelum rumah mulai ramai.

Lalu apakah itu berlaku buatku? Hmm, tampaknya tidak. Sepertinya, aku termasuk tipe yang terakhir.

Lanjutkan membaca “Rutinitas Pagi”

Rutinitas Pagi yang Sederhana

Ada ibu-ibu yang bangun lebih pagi bukan karena tidak mengantuk, tapi karena itu satu-satunya waktu tenang yang mereka punya. Saat rumah masih sunyi. Saat belum ada yang memanggil “Buuuu…”. Saat isi kepala belum seramai biasanya.

Dan ternyata, kebiasaan itu banyak sekali dilakukan para ibu. Salah satunya tanteku. Sejak kecil aku memang tahu tante termasuk orang yang rajin. Tapi aku baru benar-benar menyadari rutinitasnya setelah aku dan keluargaku pindah ke rumah sebelah. Hampir setiap dini hari, samar-samar terdengar suara cetekan kompor dari dapurnya.

Awalnya aku penasaran. Di pagi harinya, sesaat sebelum tante berangkat kerja, aku bertanya apa yang ia lakukan sepagi itu.

 

Mencari waktu sendiri di tengah rutinitas rumah, dan belajar memahami bahwa setiap ibu punya perjuangannya masing-masing.
Lanjutkan membaca “Rutinitas Pagi yang Sederhana”

Kenapa Ibu Jarang Punya Waktu Sendiri?

Dulu, aku selalu membayangkan menjadi ibu adalah hal yang menyenangkan. Sebagai perempuan yang memang menyukai anak-anak, aku senang berada di dekat mereka. Rasanya ramai, hangat, dan menyenangkan. Bahkan sejak sebelum menikah, aku sering membawa pulang keponakan atau sepupu kecil ke rumah. Istilahnya “menculik” mereka sebentar untuk menemaniku bermain.

Mereka sih happy-happy aja. Ibu dan tanteku juga tampak santai saja saat anak-anaknya aku bawa pulang.

Mencari waktu sendiri di tengah rutinitas rumah, dan belajar menerima bahwa setiap ibu punya perjuangannya masing-masing.
Lanjutkan membaca “Kenapa Ibu Jarang Punya Waktu Sendiri?”